Opini

Budaya Melayu Kepulauan Riau

info TanjungpinangBudaya Melayu Kepulauan Riau. Semakin hari arus globalisasi semakin terasa di Bumi Segantang Lada. Asimilasi budaya dari berbagai macam budaya, adat dan suku bangsa terus berlangsung disini. Sudah sejak dulu kala Kepulauan Riau yang dahulunya lebih dikenal dengan sebutan Riau ini telah menjadi tempat hidup bagi berbagai macam suku bangsa. Budaya jati Kepulauan Riau tetaplah budaya Melayu, bukan sebagai budaya yang diadopsi dari budaya semenanjung karena kedekatan geografis wilayah ini dengan wilayah Semenanjung, tetapi Kepulauan Riau ini dahulunya sememangnya adalah pusat pengembangan budaya Melayu dan juga sebagai pusat pengembangan bahasa Melayu.

Kerajaan yang dikenal sebagai kerajaan Melayu terbesar pertama di Nusantara ini adalah kerajaan Sriwijaya yang diketahui terletak disekitar Sungai Musi Palembang, Sumatera Selatan. Seiring waktu kekuasaan Sriwijaya akhirnya semakin melemah, maka sejak kerajaan Sriwijaya semakin melemah, peran Kepulauan Riau sebagai penerus warisan budaya Melayu sudah dimulai.

Budaya Melayu Kepulauan Riau
Budaya Melayu Kepulauan Riau (pic photobucket)

Alkisah putera mahkota Sriwijaya (Prameswara), sempat bermukim di Kepulauan Riau untuk membangun sebuah kerajaan yang merdeka, pada waktu itu beliau membangun pusat pemerintahan di Bintan. Dikarenakan keadaan kawasan Bintan pada waktu itu rawan serangan perompak maupun serangan kerajaan pesaing, maka kerajaan berpindah ke Tumasik yang sekarang lebih dikenal sebagai negara Singapura, di Singapura pula Prameswara mendapat tekanan bertubi-tubi dari Siam sehingga beliau akhirnya menemukan sebuah daerah yang dianggap lebih strategis dan aman yaitu Melaka. Palembang (Sumatera Selatan, Indonesia), Tumasek (sekarang menjadi negara Singapore) dan Melaka (salah satu negeri Malaysia) memang bukanlah termasuk dalam provinsi Kepulauan Riau, tetapi ketiga daerah yang disebutkan itu termasuk kedalam daerah-daerah yang sempat dan masih bertungkus lumus mempertahankan eksistensi budaya Melayu bersama-sama dengan Kepulauan Riau.

Setelah tahun demi tahun kegemilangan kerajaan Melaka, akhirnya kerajaan Melaka melemah akibat tekanan dari Portugis. Saat itulah Kepulauan Riau kembali memainkan perannya menjadi daerah penting dalam mempertahankan kewujudan adat resam Melayu. Para pembesar Melaka beserta penduduk yang loyal kepada kerajaan dikatakan ikut pindah bersama raja untuk membangun kawasan ditempat yang lebih aman dan dapat meredam ekspansi Portugis, sejak saat itu Johor(kini, salah satu negeri Malaysia) pula akhirnya memainkan peran pentingnya dan kemudian ibukota kerajaan berpindah pula ke Hulu Sungai Riau yang pada saat ini lebih dikenal sebagai Sungai Carang yang terletak di Pulau Bintan (Kepulauan Riau). Untuk kedua kalinya Kepulauan Riau kembali menjadi kawasan penting bagi kelangsungan kebudayaan Melayu .

Provinsi Kepulauan Riau ini dulunya lebih dikenal dengan sebutan Riau, bersama-sama dengan kawasan Johor sampai hingga awal abad ke 19 menjadi kerajaan bersama yang dikenal Johor-Riau. Perpecahan Johor-Riau terjadi akibat persaingan intern kerajaan Johor-Riau kemudian ditambah juga dengan pengaruh Inggris-Belanda yang ikut campur. Akhirnya kerajaan Johor dan Riau berpisah, dengan Sultan masing-masing. Keadaan politik saat itu sangat kacau, sekalipun begitu Johor dan Riau sama-sama berusaha mempertahankan adat Melayu.

Ketika Riau berdiri sendiri, Sultan Riau tetap berupaya melestRyankan adat budaya Melayu yang memang sudah kental didalam negeri Riau. Riau pada zaman kesultanan Riau dulu beribukota di Pulau Penyengat dan dalam waktu tertentu pindah ke Daik-Lingga, itulah juga sebabnya kerajaan Riau disebut pula kerajaan Riau-Lingga. Pada waktu itu terjadi asimilasi budaya Melayu dengan Bugis, asimilasi ini bukan malah melemahkan budaya Melayu tetapi sebaliknya, adat Melayu malah semakin beragam dan kuat dengan asimilasi dengan Bugis.

Harus disayai bagaimanapun juga budaya Melayu itu tentunya tidak hanya mendapat pengaruh dari Bugis, budaya Melayu juga sudah lama berbaur dengan budaya Cina, India, Arab, Jawa dan berbagai macam budaya lainnya tergantung dari letak geografis masyarakat Melayu suatu daerah tersebut. Di Pontianak (Kalimantan Barat, Indonesia) masyarakat Melayu disana berbaur dengan budaya Dayak, di Kelantan (Negeri Malaysia) pula budaya Melayu berbaur dengan budaya Siam (Thailand), sedang di Siak (Provinsi Riau, Indonesia) budaya Melayu berbaur dengan budaya Minangkabau. Kepulauan Riau sendiri memang lebih kompleks, namun begitu yang terasa paling kental pengaruhnya di Kepulauan Riau adalah perpaduan Bugis dan Melayu namun tetap tidak mengesampingkan budaya-budaya besar lainnya.

Penduduk Kepulauan Riau dari dulu kala memang sudah berbilang kaum namun begitu tidak semua orang Kepulauan Riau mau dibilang Melayu. Banyak juga diantara penduduk Kepulauan Riau yang masih enggan mengsaya dirinya orang Melayu walaupun mereka lahir dan dibesarkan di Kepulauan Riau. Apatah lagi mereka yang baru menetap di Kepulauan Riau, tentu lebih bangga dengan budaya dan bahasa tempat asalnya.

Sampai pada hari ini, masyarakat Melayu Kepulauan Riau tetap berusaha untuk terus mempertahankan eksistensi budaya dan bahasa mereka. Suatu fakta yang cukup mengusik hari ini ialah, klaim dari orang-orang Melayu sendiri dari segi bahasa, yaitu bahasa Melayu itu haruslah memiliki aksen “e” dibelakang kalimat, kalau aksen “a” maka ia bukan bahasa Melayu tetapi bahasa Indonesia. Untuk itu perlu dipertahankan bahasa Melayu dengan aksen “e”, karena aksen “a” bukan bahasa Melayu padahal kenyataannya bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau(maksud disini bahasa Melayu Kepulauan Riau, bahasa kita!), aksen “e” atau “a” tetaplah bahasa Melayu, sebagai sebuah daerah yang menjadi tempat asal bahasa Nasional Indonesia, seharusnya kita mempertahankan aksen “a” dengan logat khas Kepulauan Riau seperti datuk nenek moyang kita dulu berbicara ataupun dalam baca tulis. Jadi selain kita harus mempertahankan bahasa Melayu aksen “e” yang tentunya harus tetap kita bela untuk tetap ada dibumi Segantang Lada ini, bahasa Melayu aksen “a” dengan logat Kepulauan Riau juga harus kita jaga. “a” ataupun “e” ianya bahasa Melayu juga, ianya bahasa kita juga.

Semangat generasi muda Kepulauan Riau untuk mempertahankan budaya Melayu memang terus berkobar setiap waktu meski terkadang agak meredup, tapi ia tetap ada. Hingga ke hari ini, generasi muda Kepulauan Riau meskipun kurang pengetahuan sejarah kampung sendiri tetapi masih tetap memiliki rasa cinta kepada Bumi Segantang Lada. Meskipun begitu harus disayai juga, banyak generasi muda yang tidak peduli tentang adat resam mereka, banyak juga orang Melayu yang malu mengsaya dirinya orang Melayu, banyak juga orang Melayu yang gengsi berbicara bahasa Melayu dengan aksen “e”, padahal sepatutnya mereka yang ada di Bumi Segantang Lada ini haruslah menjaga budaya dan bahasa Melayu (aksen “a” ataupun aksen “e”), karena kalau bukan kita siapa lagi? Tidak peduli dari manapun kampung asal kedua orang tua kita, yang terpenting di kitanya sebagai pemuda tempatan Kepulauan Riau. MRyan kita jaga bersama budaya kita.

Selain dari dalam Melayu sendiri upaya untuk mempertahankan eksistensi budaya Melayu di Kepulauan Riau terkadang juga dihalang-halangi oleh para pendatang. Maksudnya disini ialah para pendatang yang tidak mengenal budaya Melayu dengan teliti, padahal kita harus selalu berikrar “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, kita berharap para pendatang yang tidak mau disebut dirinya orang Melayu itu kalau tidak mau bersama-sama kita mempertahankan budaya Melayu, paling tidak hargailah budaya Melayu yang sudah terlanjur mengakar dari ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Melayu Kepulauan Riau ini bukan mengada-ngada hendak meniru gaya berbudaya atau berbahasa orang Malaysia, dari segi bahasapun sebenarnya tidak semua negeri bagian Malaysia menggunakan aksen “e” ada juga yang menggunakan aksen “a” dan “o”, Melayu Kepulauan Riau memang berbudaya dan berbahasa seperti ini dari dulu-dulu dan tidak dibuat-buat.

Semoga saja budaya Melayu Riau dapat tetap bertahan walau diterjang budaya global yang terus merambat masuk kedalam Kepulauan Riau, bagaimanapun kita tidak boleh seperti kacang yang lupa kulit. Seharusnya kita malu kepada para leluhur negeri ini, yang rela mati berkalang tanah demi Melayu, sedang kita yang sudah hidup dialam kemerdekaan ini “selambe aje”.

 

Oleh: M Zulfahri Afiat