Tanjungpinang

Gerak Jalan 8 Km Jadi Perhatian Khusus Lis

Info Tanjungpinang – Gerak Jalan 8 Km Jadi Perhatian Khusus Lis. Pelaksanaan Gerak Jalan Proklamasi Kategori 8 Km yang dilepas oleh Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah di Terminal Sei Carang, ternoda oleh perbuatan beberapa kelompok yang mengenakan kostum yang tidak senonoh. Dari 219 regu yang berpatisipasi kemarin, terdapat beberapa kelompok pemuda yang mengenakan pakaian wanita serta atribut yang dinilai tidak mencerminkan norma kesopanan.
Mirisnya, ada juga sekelompok pemuda yang penampilannya setengah telanjang dan hanya menggunakan kardus sebagai penutup kemaluannya.

Gerak Jalan 8 Km Jadi Perhatian Khusus Lis
Gerak Jalan 8 Km Jadi Perhatian Khusus Lis

Tak hanya itu, di kardus tersebut juga digambar dengan gambar yang tidak pantas untuk dipertontonkan di publik. Selain itu ada juga kelompok wanita yang menggunakan seragam sekolah yang justru menimbulkan kesan sensual.Beragam komentar terlontar dari masyarakat. Ada yang menganggap hal itu tidak wajar, namun ada juga yang menganggap hal itu wajar.

”Kurang etis lah kalau saya bilang. Soalnya banyak anak-anak yang menonton,” ujar Ani yang ditemui di Lapangan Pamedan A Yani, Kamis (27/8).

Senada dengan Ani, Gunawan Grounimo anggota KONI Kota Tanjungpinang juga menyayangkan hal tersebut. Menurut pria berkumis ini, apa yang ditampilkan oleh segelintir pemuda tersebut sudah menyimpang dari tema Gerak Jalan Proklamasi.

”Kurang etis. Harusnya panitia bisa lebih selektif lagi. Karena tema kita Gerak Jalan Proklamasi tentu harus menampilkan tema-tema perjuangan,” sebutnya.

Sementara itu, Rini warga lainnya ketika dimintai tanggapannya mengatakan, apa yang dipertontonkan oleh segelintir pemuda tersebut merupakan hal yang wajar.

”Tak masalahlah. Namanya juga mereka meraimaikan. Cuma memang kalau dilihat agak kurang sopan juga,” tuturnya.

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah saat dimintai tanggapannya mengatakan, hal ini akan menjadi perhatian khusus dari dirinya. Sebab, apa yang ditampilkan oleh segelintir kelompok tersebut sudah dianggap di luar etika kesopanan.

”Akan kita evaluasi. Tadi sudah kita foto semua. Meskipun itu kreasi, tapi itu bukan budaya kita. Yang begini-begini akan kita berikan perhatian khusus,” tegasnya.

Pejabat nomor satu di Pemko Tanjungpinang itu berujar, sejatinya pihak panitia sudah melakukan imbauan kepada masyarakat yang ingin menjadi peserta untuk dapat menampilkan kostum yang sesuai dengan tema Gerak Proklamasi.

”Dari awal pendaftaran sudah kita imbau bahwa kita tidak menyediakan tempat untuk peserta yang menggunakan pakaian-pakaian yang tidak etis. Yang kita tampung itu pakaian-pakaian yang kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Lis melanjutkan, para peserta yang berpenampilan tidak etis tersebut sebenarnya tidak terdaftar sebagai peserta. ”Mereka itu sebenarnya tidak mendaftar,” ujarnya.

Seharusnya, kata dia, para peserta tersebut yang ikut andil dalam event ini dapat menampilkan hal tentang perjuangan. Bukan justru hal-hal yang dapat melanggar norma kesopanan.

”Tetapi kita terima kasih atas antusias mereka. Tetapi alangkah bagus dan baiknya jika semangat mereka dituangkan dalam nilai-nilai yang mendidiklah. Jadi ini terakhirlah penampilan seperti itu,” tegasnya.Pada waktu itu Lis juga berujar, secara umum tingkat antusias masyarakat untuk terlibat dalam iven tahunan ini cukup tinggi.

”Tahun ini jauh lebih meningkat dari tahun kemarin. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada masyarakat atas partisipasinya,” tuturnya.

Ke depan, Pemko Tanjungpinang akan terus melakukan pembenahan-pembenahan untuk pelaksanaan event ini. Selain itu, Lis juga berencana akan mengkonsep hal yang berbeda. Lis berencana ingin memecahkan rekor MURI untuk event yang sudah berumur 30 tahun ini.

Sumber : Humas Kota Tanjungpinang