Nasional

Ini Kata Mantan Ketua TPF Soal Nama Hendropriyono Dalam Laporan Kasus Munir…

BOGOR, KOMPAS.com — Mantan Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) dalam masalah pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, Marsudhi Hanafi, percaya masalah Munir belum tuntas.

Purnawirawan polisi berpangkat brigadir jenderal itu menyebut, masih ada orang yg diduga kuat dan mengetahui pembunuhan itu, tapi masih bebas berkeliaran.

Setelah Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono membuka pernyataan mengenai “hilangnya” dokumen TPF masalah Munir, Selasa (25/10/2016), Marsudhi ikut buka suara.

Dia menyebut keterlibatan sejumlah pejabat di Badan Intelijen Negara dalam laporan TPF. Berikut kutipan wawancara wartawan dengan Marsudhi, di kediaman Susilo Bambang Yudhyono di Puri Cikeas, Bogor.

Menurut Bapak sebagai mantan Ketua TPF Munir, apakah masalah ini telah selesai atau masih ada orang yg terlibat tapi masih bebas?

Kan ada di (hasil) rekomendasi kita (TPF). Jadi ya sesuai itu.

Artinya, masih ada orang-orang yg diduga terlibat tapi masih bebas?

Masih ada. Silakan penyidik mengembangkan lagi kalau ada jaringannya lagi.

Dalam dokumen TPF Munir yg dibacakan mantan Sekretaris Kabinet/Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, ada nama mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono yg diduga terlibat. Tetapi, Sudi menyampaikan bahwa beliau tak terlibat?

“Waktu itu”, ingat, ada kalimat “waktu itu”. Kalau sekarang ada, ya silakan saja. Coba baca kalimatnya, “waktu itu”, “saat itu”. Kalau ketika sekarang ada, ya kenapa tidak. Waktu itu tak ada bukti yg memamerkan keterlibatan yg bersangkutan (AM Hendropriyono).

“Waktu itu” lho ya. Tapi kalau sekarang ada, ada yg memberi tahu begini, begini, ya silakan saja.

Apakah menurut Bapak, AM Hendropriyono benar terlibat? Atau baru dugaan saja?

Baru dugaan saja.

Apa temuan TPF ketika itu yg mengarah ke keterlibatan AM Hendropriyono?

Ya kan itu bergeraknya dalam lingkungan BIN. Waktu itu pimpinannya Pak Hendropriyono. Ya tentu dia harus tahulah. Kira-kira begitu.

Mengapa dugaan keterlibatan AM Hendropriyono tak diusut berbarengan dengan proses hukum tersangka pembunuhan Munir sebelumnya?

Ya, kan enggak mampu serentak. Kan yg terakhir itu Pak Muchdi PR kan? Iya kan. Ending-nya ya nanti lihat sendiri.

Proses hukum pembunuhan Munir terakhir pada 2013. Sementara itu, pemerintahan SBY periode pertama berakhir 2014. Kenapa dokumen TPF tak diumumkan setelah proses hukum selesai?

Masih projustisia kan. Jadi di dalam temuan TPF tuh, kan kami ada dua tersangka, terdakwa apa semua jenis di situ, yg didugalah. Tentu enggak dapat diumumkan dong. Nanti lari malingnya.

Apalagi ini pembunuhan yg terstruktur, terorganisir yg baik dan tenggangnya waktu lama. Coba penyidikannya kapan, terbentuknya TPF kapan, kan lama. Waktu itu kan sempat yg terkait dapat menghilangkan dokumen, ada waktu.

Tetapi, dalam Surat Keputusan Presiden soal pembentukan TPF Munir, ada poin agar TPF membuka hasil temuan dan rekomendasinya?

Iya, aku tahu itu. Saya mengerti. Ada item itu kan. Bukan Presiden, tapi pemerintah. Jadi kalau pemerintah itu mampu saja menteri-menterinya, mampu saja.

Tetapi, isi dokumen itu masih ada yg mesti dikejar. Makanya tak diumumkan itu, mungkin pertimbangan pemerintah di situ.

Kalau sekarang kan telah diumumkan, tadi dibilang. Untuk apa dihalangi lagi, telah terbuka. Orangnya sudah. Nah, kalau ada yg masih terganjal, silakan diusut lagi.

Sebagai mantan Ketua TPF Munir, apa yg Bapak usulkan ke pemerintahan Jokowi-Kalla mengenai masalah pembunuhan Munir ini?

Saya kira kalau ada novum (bukti baru), tindak lanjuti saja. Kan telah bica dibaca, terang benderang.

Pak SBY katakan, ini orangnya, ini, ini, ini. Saat itu belum terbukti. Ya kalau sekarang terbukti, ya usut saja, kenapa enggak.

**
Hingga ketika ini Hendropriyono belum memberikan komentar seputar perkara Munir. Kompas.com masih berusaha bagi mendapatkan informasi dari Hendropriyono.

Kompas TV SBY Gelar Konferensi Pers soal Hilangnya Dokumen Kematian Munir

Sumber: http://nasional.kompas.com