Nasional

Jika Budi Gunawan Kepala BIN, Ke Mana Sutiyoso Dan Siapa Wakapolri?

KOMPAS.com –  Presiden Joko Widodo menunjuk Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Badan Intelejen Negara (BIN).

Surat penunjukan Budi sudah dikirim ke Dewan Perwakilan Rakyat RI, Jumat (2/9/2016) pagi.

Pemerintah pun berharap, parlemen langsung memprosesnya.

Jika proses fit and proper test Budi di Dewan Perwakilan Rakyat RI berlangsung mulus, maka pria yg ketika ini masih menjabat sebagai Wakil Kepala Polri itu mulai dilantik tepat setelah kepulangan Presiden dari rangkaian kunjungan kerja di Tiongkok dan Laos.

“Mudah-mudahan dalam fit and proper test di Dewan Perwakilan Rakyat tak ada permasalahan sehingga dengan demikian kalau memang semuanya berjalan lancar, maka setelah kembali dari acara G20 dan KTT ASEAN, Presiden mulai langsung melantik (Budi) menjadi Kepala BIN,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Pramono menyampaikan itu di Hangzhou, Tiongkok, Jumat sore waktu setempat.

Dia juga menjelaskan, surat penunjukan Budi Gunawan menjadi Kepala BIN menggantikan Sutiyoso itu ditandatangani Presiden Jokowi pada Kamis (1/9/2016) lalu.

Saat itu, Budi dan Sutiyoso sama-sama dipanggil ke Istana.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, pergantian jabatan Kepala BIN ini yaitu proses regenerasi di tubuh pemerintahan.

Pergantian itu wajar karena ‘toh’ memang tak ada masa jabatan tertentu untuk seorang kepala BIN.

“Ini alasan regenerasi biasa saja. Argumentasinya regenerasi saja. Kan memang tak ada periodisasi tegas tentang Kepala BIN ini,” ujar Pratikno usai menyerahkan surat penunjukan Budi ke Ketua DPR, Jumat pagi.

Pengalaman terganjal
Saat Presiden menunjuk Budi menjadi Kepala Polri, Januari 2015 lalu, prosesnya terganjal persoalan hukum.

Empat hari setelah surat penunjukan Budi sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat RI, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan pengumuman, memutuskan Budi sebagai tersangka kasus gratifikasi.

Buntutnya, meskipun mulus dalam fit and proper test di parlemen namun Budi gagal menjabat sebagai pimpinan Tribrata 1.

Presiden kemudian menunjuk Wakil Kepala Polri Komjen (Pol) Badrodin Haiti buat menjadi Kepala Polri pengganti Budi.

Budi pun dipercayai menduduki jabatan lama Badrodin sebagai Wakil Kepala Polri.

Belakangan, Budi dinyatakan ‘clear‘ dari tindak pidana yg dituduhkan kepadanya melalui serangkaian proses peradilan dan penghentian penyelidikan meskipun proses tersebut diwarnai kontroversi.

Ke mana Sutiyoso?
Ketika ditanyakan perihal apakah Presiden masih mempercayai Sutiyoso buat menjabat jabatan tertentu, Pramono tak mampu menjawabnya.

Sebab, hal itu yaitu murni wewenang Presiden Jokowi sendiri. Namun, ia percaya Presiden sudah mempertimbangkan dengan matang apakah masih mempercayai Sutiyoso bagi menduduki jabatan tertentu atau tidak.

Saat dipanggil ke Istana, dua waktu lalu, Presiden pun sudah memberikan sejumlah arahan kepada Sutiyoso.

“Pak Sutiyoso Selasa dulu sudah dipanggil Pak Presiden dan telah diberikan arahan. Nah, mengenai apa tugas yg diberikan kepada Pak Sutiyoso, cuma Presiden yg mengetahuinya,” ujar Pramono.

Sjafruddin bersiap gantikan Budi
Seiring keputusan Presiden Jokowi menunjuk Budi sebagai Kepala BIN, maka posisi Wakil Kepala Polri yg diduduki Budi harus diisi sosok perwira Polri lain.

Salah sesuatu jenderal bintang tiga, Komjen (Pol) Sjafruddin mengaku, posisi Wakil Kepala Polri yaitu keputusan sepenuhnya Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian.

“Tanya Kapolri. Karena urusan Wakapolri itu wewenang dia yg memutuskan,” ujar Sjafruddin melalui sambungan telpon dengan Kompas.com, Jumat.

Namun, Sjafrudin menegaskan, bersiap menjalankan amanah itu seandainya Tito menunjuk dia.

“Saya siaplah,” ujar Syafruddin.

Sebagai salah sesuatu personel Polri, memang harus bersiap seandainya ditunjuk menempati jabatan tertentu.

Ia sendiri mengaku pada Kamis (1/9/2016) kemarin sudah bertamu ke Istana Presiden. Namun, ia tak mau memberi komentar perihal kedatangan dirinya ke Istana.

Mantan ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu menegaskan, enggan melampaui wewenang Kapolri.

Sumber: http://nasional.kompas.com