Nasional

Jokowi Tidak Suka Revolusi Mental Sebatas Jargon Dan Omongan

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemberantasan pungutan liar juga yaitu salah sesuatu tindakan nyata dalam mewujudkan revolusi mental.

Jokowi mengaku tak senang seandainya revolusi mental cuma berbentuk jargon, spanduk atau omongan belaka.

“Kita tak senanglah dengan jargon-jargon, ngomongnya terlalu banyak. Kita ini ingin membangun sebuah nilai melalui operasi pemberantasan pungli ini,” ujar Jokowi dalam acara Satu Meja di Kompas TV, Senin (17/10/2016) malam.

Dengan tindakan nyata pemberantasan pungli, Jokowi percaya masyarakat, terutama aparat pemerintahan yg selama ini menjadi pelaku pungli, mulai berubah.

(baca: Dua Tahun Pemerintahan Jokowi, Fahri Hamzah Anggap Revolusi Mental Sebatas Retorika)

Selain itu, revolusi mental juga mulai didorong melalui program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yakni ‘full day school’.

“Saya telah perintahkan Mendikbud memulai pembangunan karakter anak-anak kalian dari sekolah dasar sehingga muncul nanti full day school,” ujar Jokowi.

Program itu direncanakan diterapkan di sekitar 500 sekolah di Indonesia. Program itu bukanlah mata pelajaran yg pada umumnya diajarkan di sekolah.

Jokowi mengatakan, dalam program itu, tenaga pendidik mulai menitikberatkan soal pengembangan karakter Indonesia pada anak-anak.

 

(baca: Pungli, Target Utama Revolusi Mental)

“Titik beratnya lebih banyak ke pembangunan etika, pembangunan karakter, sopan santun, budi pekerti, integritas, kejujuran,” ujar Jokowi.

Melalui program itu, Jokowi berharap mulai tumbuh anak Indonesia yg tak cuma pintar, tapi juga berakhlak mulia dan berkepribadian baik. Mengingat, Indonesia sudah masuk ke era kompetisi global.

“Tanpa kekuatan SDM dalam rangka berkompetisi dengan negara lain, ya kami mulai ditinggal. Infrastruktur penting, iya. Tapi SDM, membangun manusia, itu lebih penting,” ujar Jokowi.

Kompas TV Jokowi: Pungli Harus Dihentikan

Sumber: http://nasional.kompas.com