Nasional

Kisah Batalnya Indonesia Meratifikasi Konvensi Pengendalian Tembakau Jelang Pemilu 2004

BOGOR, KOMPAS.com – Indonesia disebut pernah hampir menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau konvensi pengendalian persoalan tembakau.

Namun, rencana itu dibatalkan menjelang pemilu 2004.

Informasi itu disampaikan Anhari Achadi, akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia yg juga mantan staf ahli Menteri Kesehatan era Presiden Megawati Soekarnoputri, Achmad Sujudi.

Menurut Anhari, pada 2004, Sujudi sebenarnya telah sempat mendapat kuasa penuh dari Megawati bagi menandatangani FCTC. Sujudi bahkan telah sempat bertolak ke markas PBB di New York.

Namun, jelang keikutsertaannya dalam deklarasi FCTC, Anhari menyebut Sujudi mendapat telepon dari seseorang yg memintanya tak ikut menandatangani FCTC.

“Tiba-tiba mampu telepon tak jadi. Waktu itu mau Pemilu,” kata Anhari dalam seminar pengendalian tembakau dengan tema “Membongkar Hambatan Aksesi FCTC dan Mitos Rokok di Indonesia” di Bogor, Sabtu (1/10/2016).

Anhari mengaku tak tahu menahu siapa yg menelpon Sujudi itu. Sebab, ia menyebut dirinya tak pernah diberi tahu Sujudi sampai dengan ketika ini.

“Cuma Pak Sujudi yg tahu. Dia tak mau ini jadi gaduh,” ujar Anhari.

Menurut Anhari, setelah kejadian itu, Sujudi sempat memaparkan mengenai perlunya Indonesia meratifikasi FCTC dalam pertemuan terbatas di Istana Negara.

Rapat dihadiri Presiden Megawati, Wakil Presiden Hamzah Haz serta sejumlah menteri Kabinet Gotong Royong.

Anhari menuturkan bahwa dalam meeting itu, Sujudi menyatakan bahwa terganggunya industri rokok karena ratifikasi FCTC tak mulai muncul seketika, melainkan butuh proses yg sangat panjang.

Selama masa yg panjang itulah Indonesia dianggap mampu berbenah. Namun, kata Anhari, usulan dari Sujudi itu ditolak oleh sebagian peserta rapat.

Satu-satunya menteri yg disebutnya menerima usulan itu hanyalah Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ketika itu, Jusuf Kalla.

Sementara itu, Anhari menyebut Megawati ketika itu menyatakan belum mampu mengambil keputusan. Sedangkan Hamzah sama sekali tak memberikan pendapatnya.

“Bu Mega bilang, ‘Oke hari ini kami belum dapat mengambil keputusan, mulai kalian adakan rapat lagi’. Tapi setelah itu tak pernah ada rapat lagi,” tutur Anhari.

Anhari mengaku heran kenapa para menteri menolak usulan agar Indonesia menandatangani FCTC. Ia menduga penolakan disebabkan karena para menteri tak mendapat keterangan yg benar sebelumnya.

“Informasi yg didapat tak akurat,” ucap Anhari.

Indonesia diketahui menjadi sesuatu dari tujuh negara di dunia yg tak menandatangani FCTC. Enam negara lainnya adalah Somalia, Malawi, Eritrea, Andorra, Liechtenstein, dan Monako.

Ada 180 negara di dunia yg diketahui telah menandatangani FCTC. Mereka di antaranya adalah negara-negara produsen tembakau terbesar, seperti Tiongkok, India, Brasil, dan Amerika Serikat.

Kompas TV Komisi XI: Jangan Matikan Industri dengan Regulasi â?? Satu Meja

Sumber: http://nasional.kompas.com