Opini

Menanti Perdamaian Disekeliling Jarussalem

info TanjungpinangMenanti Perdamaian Disekeliling Jarussalem. Menanti Perdamaian Disekeliling Jarussalem
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan” (Pembukaan UUD 1945)

Terjadi lagi pertempuran antara Israel dan Palestina. Kali ini Israel melakukan penyerangan ke Gaza. Penyerangan Zionis Israel ke Palestina ini sudah terjadi berulang kali dengan dalih mempertahankan kedaulatan Israel dari teroris. Saat ini mereka menganggap teroris itu adalah orang-orang Palestina dan kebetulan negara Islam yang terdekat dan lemah adalah Palestina, jadilah Palestina sebagai korban kebiadaban mereka dengan dalih pemberantasan teroris.

Berdirinya negara Israel ditengah negara-negara Arab bukanlah sebuah pendudukan Eropa terhadap Timur tengah seperti yang terjadi pada era abad ke 19 atau ke 20 lalu. Israel tidak memiliki negara induk lagi selain Israel. Kalau dulu Belanda menjajah Indonesia dan saat Belanda kalah perang Belanda akan kembali ke Belanda atau penjajahan Inggris pada India, disaat India merdeka maka Inggris akan kembali ke Inggris. Dalam kasus Israel ini sangat berbeda dengan kedua contoh tersebut. Israel ada ditengah-tengah negara Arab karena motivasi khusus, yaitu mendirikan kembali negara Yahudi seperti apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Jika Israel akhirnya kalah dan Palestina akhirnya merdeka, Israel tidak memiliki negara induk untuk kembali.

Permasalahan Israel dengan Palestina juga ada sangkut pautnya dengan keadaan intern Israel sendiri. Rasa ketakukan dan keraguan mereka pada Palestina mendorong mereka untuk memberikan teror pada masyarakat sipil yang hidup di Gaza. Israel sebenarnya menyadari dampak dari apa yang mereka lakukan terhadap penduduk Gaza. Tekanan dunia internasional terhadap mereka pun semakin menjadi, namun mereka memang harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan kedaulatan mereka sebagai satu-satunya negeri Yahudi yang ada didunia.

Dengan terus memberikan ancaman kepada pihak Hamas yang berada di Gaza, mereka berharap pihak otorita setempat mau diajak berunding, walaupun sebenarnya Israel sadar akan konsekuensinya yaitu semakin meningkatnya perlawanan pihak Hamas.

Israel sangat menyadari bahwa keinginan masyarakat Palestina sebenarnya bukan ingin kemerdekaan dengan wilayah demografi yang ada sekarang. Motivasi masyarakat Palestina sebenarnya lebih kepada penghancuran Israel. Tegak dan berdirinya negara Palestina sebenarnya tujuan kedua Palestina sendiri.

Karena Palestina ingin berdiri diatas wilayah negeri yang sekarang diduduki oleh Israel. Perlu diperhatikan juga, kenapa Israel berjuang mati-matian dan melanggar hak asasi manusia yang ada di Gaza, itu semua tak terlepas dari tekad mereka untuk mempertahankan negara mereka. Karena seandainya mereka melemah dan kalah dalam peperangan menghadapi negara-negara disekitar mereka maka nasib masyarakat Yahudi akan kembali lagi sama seperti shoah pada zaman perang dunia kedua dulu. Apabila Israel runtuh apakah ada negara didunia ini yang mau menerima pengungsi Yahudi dari negara tersebut? Apabila Israel runtuh, bagaimana nasib umat Yahudi yang ada diseluruh dunia? Antisipasi terhadap kekalahan inilah yang membuat Israel menghalalkan segala cara demi kelangsungan negara mereka.

Disisi lain, Palestina sendiri sangat giat untuk mencapai kemerdekaan yang mereka dambakan. Adalah sebuah kehormatan bagi mereka untuk berjuang dan gugur sebagai pejuang bagi kewujudan negara mereka. Palestina menganggap Israel adalah kumpulan orang-orang Yahudi imigran yang berasal dari seluruh penjuru dunia (terutama Eropa) yang merampas tanah leluhur bangsa Palestina. Maka Palestina wajib menghancurkan Israel walau apapun resikonya.

Dua sudut pandang yang berbeda antara dua negara ini semakin rumit karena memang ada unsur agama didalam peperangan ini. Adalah sesuatu yang janggal jika kita berbicara tentang Israel tanpa mengaitkan dengan Yahudi dan juga sangat aneh jika berbicara tentang Palestina jika tidak mengaitkan tentang Islam.

Harus diakui pendirian negara Israel didasari atas semangat Zionisme yang menganggap umat Yahudi berhak memiliki kembali ke negara Israel yang pernah wujud suatu ketika dulu. Karena kerajaan Sulaiman (Solomon) dan Daud (David) pernah menjadi negara yang maju pada masa lalu. Klaim Israel pula, bahwa kerajaan Solomon pada masa dulu selain sebagai kerajaan Israel juga adalah sebuah negeri yang melestarikan bahasa Ibrani sebagai bahasa komunikasi mereka. Maka masyarakat Yahudi diseluruh dunia walau bagaimanapun harus mendukung berdiri kembalinya negara Israel yang berbahasa Ibrani seperti dulu, pada era kebangkitan bangsa-bangsa paska berakhirnya perang dunia kedua sekarang ini.

Didalam Israel sendiri pada masa sekarang sebenarnya terdiri dari berbagai kaum dan suku bangsa. Israel membuka negaranya bagi umat Yahudi seluruh dunia untuk kembali ketanah yang dijanjikan(menurut mereka). Didalam Israel juga ada kaum minoritas Arab Islam yang masih bertahan dan diakui sebagai warga negara Israel. Ada juga kaum Arab Yahudi yang hidup di Jarussalem dan kota-kota besar di Israel. Semua bangsa yang ada di Israel pada masa sekarang, sebenarnya tidak semuanya mendukung tekanan militer terhadap musuh-musuh mereka.

Pemersatu Israel adalah Yahudi dan bahasa Ibrani. Sehingga kaum Arab Islam minoritas menjadi warga kelas dua dinegara itu. Kaum Arab Islam selalu dianggap duri dalam daging bagi kaum Yahudi garis keras. Sedangkan bagi Yahudi aliran kanan selalu ingin berupaya hidup tenteram dengan warga Arab Islam tersebut. Masyarakat Israel sebenarnya juga lelah akan peperangan demi peperangan yang terjadi, namun mereka tidak bisa menolak untuk mempertahankan kedaulatan negara mereka dengan cara apapun juga. Walaupun itu harus menginjak-injak kedaulatan bangsa lain.

Masalah Israel dan Palestina tidak bisa disederhanakan, masalah ini begitu rumit dan kompleks. Upaya untuk menyederhanakan masalah ini menjadi masalah nasionalisme saja akan membuat kesan meremehkan semangat keagamaan yang memang ada. Masalah Israel dan Palestina memang terlanjur kusut dan berbelit-belit. Kedua-dua pihak tetap menganggap pihak mereka sebagai pihak yang benar sehingga kematian tidak membuat mereka gentar sama sekali. Bagi Israel setiap peperangan adalah sebuah kelanjutan dari perang kemerdekaan mereka sedangkan bagi pihak Palestina setiap peperangan yang terjadi adalah perang untuk mengembalikan kemerdekaan mereka.

Pada masalah Israel Palestina ini kita bisa melihat sikap janggal Amerika. Betapa tidak, Amerika selalu mendengungkan demokrasi, dan katanya mereka menyerang Iraq dikarenakan alasan demokrasi, tapi anehnya Amerika malah mendukung sebuah negara yang sama sekali tidak demokrasi yaitu Israel. Negara yang jelas-jelas berdiri dengan semangat Yahudi dan menganggap remeh bangsa lain, karena kaum Arab minoritas tidak mungkin ada yang bisa menjadi perdana menteri, tidak seperti Obama yang berkulit hitam bisa menjadi pemimpin dinegara yang mayoritasnya kulit putih(Amerika Serikat).

Jarussalem sebagai tempat suci bagi tiga agama Samawi juga menjadi tempat yang paling banyak menumpahkan darah dibandingkan dengan daerah lain didunia ini. Jauh sebelum nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS diturunkan kedunia, bangsa Israil memang sudah sejak dulu bersusah payah mempertahankan kekuasaannya dari serangan-serangan bangsa-bangsa besar. Tanah Jarussalem dan sekitarnya silih berganti dikuasai negara besar pada masa itu, sebut saja Romawi, Persia dan Mesir. Bangsa Israil diserang secara silih berganti oleh para penguasa dari negara-negara besar pada masanya masing-masing, entah apa daya tarik kawasan itu sehingga selalu menjadi tempat peperangan antar berbagai bangsa, mungkin letaknya yang strategis agaknya atau karena umat manusia dikawasan itu yang terkesan aneh bagi negara-negara penganut Majusi. Betapa tidak, pada masa itu negara-negara disekitarnya menyembah banyak dewa sedangkan penduduk Jarussalem hanya percaya kepada satu Tuhan.

Dalam perjalanan sejarah itu diturunkanlah para nabi untuk mengajak masyarakat Israil untuk tetap bertahan kepada Tauhid dan bangkit dari cengkeraman tirani bangsa lain. Selalu terjadi perubahan drastis pada masyarakat Israil selepas datangnya seorang nabi diantara mereka. Mereka yang awalnya takut menjadi pemberani, ataupun sebaliknya jika pada suatu masa mereka terlalu berani hingga menjadi sombong maka diturunkan pula seorang nabi yang mengajak bangsa Israil untuk bersabar dan mengalah.

Diantara para nabi-nabi yang membawa ajaran yang benar di Israil ternyata banyak juga yang mengaku-ngaku sebagai nabi kepada mereka. Itu membuat mereka sangat berhati-hati bahkan skeptis jika ada lagi orang yang mengaku sebagai nabi diantara mereka.

Sejarah pada masa sekarang sudah banyak alur yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan sumber yang berbeda-beda pula membuat sejarah bangsa Israil menjadi beragam. Sejarah yang sudah terlanjur dicatat dan diceritakan beragam inilah yang ternyata dijadikan manipulasi oleh pihak-pihak yang tidak memiliki hati nurani untuk memobilisasi masa demi kepentingannya. Maka diangkat isu ras mulia dan  diangkatlah isu agama.

Sudut pandang masyarakat Indonesia terhadap Israel sudah terlanjur “mengutuk dan anti Yahudi” padahal mayoritas masyarakat Indonesia tidak tau sama sekali tentang apa itu Yahudi. Para penganut Yahudi terlanjur dianggap penjajah dimata masyarakat Indonesia. Sehingga sesuatu yang identik dengan Yahudi selalu mendapat protes keras di Indonesia.

Begitu juga yang terjadi di Jarussalem dan sekitarnya yang kini terdiri dari dua negara yaitu Israel dan Palestina. Israel mayoritasnya Yahudi sedangkan Palestina mayoritasnya Islam. Dulu tanah Jarussalem itu, sempat berada dibawah pengaruh raja-raja Eropa(Kristen) beberapa abad setelah datangnya Nabi Isa AS (Islam)//Yesoa min Nazareth (Kristen) dan kemudian silih berganti kekuasaan dengan kerajaan Turki Usmani (Islam).

Setiap jengkal tanah Jarussalem selalu menjadi alasan bagi manusia yang sebenarnya percaya akan adanya Tuhan namun berbeda konsep Ketuhanan untuk saling membunuh. Mereka yang percaya akan adanya kekuasaan Tuhan yang mengatur alam semesta ini ternyata bersikap seperti mereka yang tidak percaya dengan Tuhan ketika sedang berebut Jarussalem. Penganut ketiga Agama ini (Islam, Yahudi dan Kristen) telah banyak mempertaruhkan nyawa umat manusia untuk “menunjukkan” kekuasaan yang Maha Kuasa. Yang jelas, sebenarnya kita harus ingat bahwa Tuhan mencintai perdamaian.

Tumpang tindih sudut pandang dan kepentingan terjadi di Yarussalem. Sekarang tanah Yarussalem dan sekitarnya berada dibawah pengaruh Zionis Israel yang mengklaim bahwa itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka sudah sejak zaman nabi Musa AS dulu. Didalam Israel sendiri banyak umat Yahudi yang mulai kecewa dengan kelanjutan proyek Zionisme ini. Tidak semua umat Yahudi diseluruh dunia menerima pandangan Zionis yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan berdiri dan bertahan satu-satunya negara Yahudi didunia.

Setiap hari umat Yahudi di Israel menjadi sasaran propaganda politik Zion. Sehingga masyarakat Israel dewasa ini menjadi masyarakat yang mengganggap rendah umat beragama lain terutama Islam dan Kristen. Seperti masyarakat Indonesia yang terlanjur mencap Yahudi sebagai umat “laknat” maka Israel tanpa pandang bulu menganggap Indonesia sebagai negara “teroris”, ironisnya  Israel menganggap semua negara yang pro Palestina adalah negara Teroris.

Aneh rasanya karena didunia ini lebih banyak negara yang simpati kepada Palestina daripada negara yang simpati kepada Israel, maka seluruh dunia ini adalah teroris di mata Israel. Teroris itu tentunya sedikit atau minoritas, jika mayoritas tentu namanya bukan teroris lagi.
Beginilah dunia hari ini, dan Jarussalem sejak dulu kala memang seperti itu. Selalu terjadi peperangan antara pihak-pihak yang merasa lebih mulia dari pihak lain. Agama dijadikan alasan untuk menghalalkan pembunuhan. Padahal Taurat, Injil dan Al Qur’an semuanya mengutuk kekerasan.

Kita berharap semoga masyarakat Indonesia terus membantu memberikan dukungan moral maupun materil kepada masyarakat Palestina. Tetapi masyarakat Indonesia tidak perlu membenci dan anti kepada Yahudi seperti Israel membenci dan anti kepada Palestina. Kita bisa menunjukkan pada mereka bahwa kita lebih berperadaban. Sebenarnya jika seluruh manusia beriman dan patuh beribadah sesuai dengan ajaran agama masing-masing dengan tulus tanpa menghiraukan tahta dan harta maka tidak akan terjadi pertempuran yang harus memakan banyak korban jiwa.

Pihak barat sangat terkesan dan rindu dengan kepemimpinan Salahuddin Al Ayubi yang memimpin Jarussalem pada suatu masa dulu. Bisa dilihat dari film “Kingdom Of Heaven”, difilm itu Salahuddin atau disebut juga Saladdin berkarakter tangguh dan pemaaf. Memang tidak semua jalan cerita film tersebut dapat dipercaya, yang jelas seorang Salahuddin Al Ayubi yang selalu dipuja dalam buku sejarah Islam ternyata bukan klaim sepihak dari pihak Islam saja. Ia terbukti memikat hati masyarakat Barat dengan kebijaksanaannya.

Salahuddin Al Ayubi berhasil menentramkan Jarussalem pada suatu waktu dulu, peziarah dari Islam, Yahudi dan Kristen bebas berkunjung dan beribadah di Jarussalem dibawah jaminan perlindungan dari Salahuddin Al Ayubi. Kebijakan Salahuddin Al Ayubi inilah yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Benjamin Netanyahu atau siapapun pemimpin Israel sejak tahun 1948 sampai sekarang.

Dunia memang sedang menanti kedatangan seseorang yang bisa menentramkan Jarussalem kembali. Masyarakat Palestina yang terbagi dalam dua penjara besar yang dibuat Israel terkekang di Tebi Barat (west post) dan Gaza. Masyarakat Palestina terbagi dalam dua kelompok besar yang saling berseberangan secara wilayah maupun secara pemikiran yang dipisahkan oleh Israel. Masyarakat Israel terlalu bebas untuk masuk kedalam kedua wilayah Palestina secara semena-mena dan tidak sebaliknya. Ini sama sekali tidak adil.

Di Palestina(dibawah kontrol Israel) ada kiblat pertama umat muslim (Al aqsa) sebelum kemudian kiblat umat muslim berganti menghadap ke ka’bah (Mekah) atas ketentuan Allah SWT. Di Israel ada gereja Bethlehem tempat Jesus dilahirkan sesuai dengan kepercayaan umat Kristen. Di Israel ada Tabut perjanjian dan Tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Musa untuk umat Israel(Israil) sesuai dengan kepercayaan Yahudi.

Permasalahan Jarussalem adalah permasalahan dunia, kekejaman Israel di Gaza adalah tragedi kemanusiaan yang keji. Kita mengutuk kekejaman Hitler kepada bangsa Yahudi di Eropa pada perang dunia kedunia dulu. Kini kita mengutuk juga satu-satunya negara Yahudi/mayoritas Yahudi(Israel) terhadap kezaliman yang mereka lakukan pada penduduk Palestina. Terlepas dari pandangan Agama yang berbeda antara Islam, Kristen dan Yahudi. Dengan hati nurani sebenarnya kita sadar yang benar itu benar, yang salah itu salah.

Permasalahan Jarussalem adalah urusan dunia yang harus disingkirkan dari segala manipulasi politik, ekonomi dan doktrin keagamaan. Karena sepertinya sekarang Agama hanya dijadikan alasan untuk memperkuat ekonomi dan pengaruh negara-negara tertentu didunia ini. Agama terlalu mudah untuk dijadikan alasan untuk menggerakkan masa dan manusia terlalu mudah terhasut jika menyangkut sentimen agama. Namun begitulah jika berbicara Jarussalem takkan mungkin terlepas dari tiga Agama Samawi itu.

Banyak Imam, Pendeta dan Rabbi yang bijak didunia ini ternyata tak kuasa untuk menahan orang-orang tidak bernaluri yang mengatasnamakan Agama. Tinggal kita sekarang harus kembali menggunakan hati nurani kembali. Jarussalem akan terus diperebutkan, tanah disekitar Jarussalem tetap menjadi ajang pertumpahan darah. Membuktikan manusia terlalu lemah untuk mendamaikan Jarussalem tak peduli sepintar dan sekuat apapun dia. Dari renteran kisah yang terjadi di Jarussalem ada kuasa dan kehendak Yang Maha Kuasa untuk direnungkan. Untuk membuat manusia menjadi lebih beriman kepadaNYA. Hanya Allah SWT yang tau kapan dan apa yang terjadi pada Jarussalem dimasa mendatang nanti. Manusia hanya mampu berusaha namun DIAlah yang menentukannya.

 

Oleh: M Zulfahri Afiat