Opini

Menjaga Eksistensi Bahasa Daerah (Melayu) Kepulauan Riau

info TanjungpinangMenjaga Eksistensi Bahasa Daerah (Melayu) Kepulauan Riau. Kepulauan Riau dikenal sebagai provinsi yang memiliki sejarah dan budaya Melayu yang gemilang. Melayu memang tidak dapat dipisahkan dari Kepulauan Riau karena perkembangan budaya dan bahasa Melayu dari sejak dulu kala sampai sekarang berproses disini. Bahasa Melayu yang juga banyak mengadopsi berbagai macam bahasa dari suku bangsa lain telah menjadi bahasa yang terlanjur mudah dipahami dan menyebar luas kesegenap penjuru Nusantara.

Menjaga Eksistensi Bahasa Daerah (Melayu) Kepulauan Riau
Menjaga Eksistensi Bahasa Daerah (Melayu) Kepulauan Riau

Di Kepulauan Riau sendiri terdapat sedikitnya 4 bahasa Melayu dengan dialek yang berbeda satu dengan lainnya. Logat-logat bahasa Melayu yang ada di Kepulauan Riau diantaranya adalah Bahasa Melayu logat Natuna, Bahasa Melayu logat Anambas, Bahasa Melayu logat Senayang dan Bahasa Melayu Dagang. Yang paling banyak digunakan sebagai bahasa pergaulan adalah bahasa Melayu dagang yang dituturkan di Bintan, Karimun, Lingga, Singkep dan hampir disemua daerah di Kepulauan Riau, termasuk juga dikawasan Anambas, Natuna dan Senayang.

Bahasa Melayu dagang ini banyak juga penuturnya dari daerah lain seperti di selatan Malaysia, pesisir kalimantan, pesisir Riau, pesisir Sumatera Utara dan pesisir Belitung, walaupun bahasa Melayu dagang antara satu daerah dan daerah lain boleh dikatakan sama namun tetap ada perbedaan beberapa suku kata antara satu daerah dan daerah lain sesuai dengan perpaduan budaya dengan budaya sekitarnya pula.

Bahasa Melayu dagang adalah bahasa yang penting sebagai bahasa penghubung kawasan Selat pada masa dulu kala sampai sekarang. Sehingga bahasa ini telah menyebar dan berpengaruh pada beberapa daerah yang berada disekitar kawasan selat Malaka dan juga selat Kalimata.

Di Kepulauan Riau sendiri terdapat dua kawasan yang dulunya merupakan ibukota kerajaan Riau-Johor yaitu Pulau Penyengat dan Daik Lingga. Pada masa itu bahasa Melayu selain menjadi bahasa pergaulan sehari-hari juga menjadi bahasa sastra yang digunakan untuk menciptakan karya-karya terkenal dari bumi Kepulauan Riau seperti Pantun-pantun, Gurindam, syair dan lirik lagu.

Perkembangan dan pergeseran budaya belakangan ini telah membuat penduduk Kepulauan Riau berada  dalam dilema sosial kebudayaan yang unik. Dengan peta modern yang memisahkan satu negara dengan negara lain, membuat penduduk Kepualauan Riau menjadi saksi ditengah-tengah perbatasan. Yang ini punya Indonesia, yang itu punya Malaysia. Yang ini Bahasa Indonesia dan yang itu bahasa Malaysia. Yang ini tari Indonesia dan yang itu tari Malaysia. Penduduk Kepulauan Riau yang biasa menjelajahi laut sejak dulu kala menjadi tercengang-cengang melihat keadaan ini. Mereka yang biasa meretas laut dari Senayang sampai ke Tumasek (Singapore) kemudian terus berlayar ketepian Kelantan(Malaysia Utara) heran melihat budaya “darat” yang mengkotak-kotakkan kawasan darat dan luat, yang ternyata mau juga mengkotak-kotakkan Budaya. Bagaimanapun orang Melayu tetap saja bergurau ditengah laut sambil merokok dan menghirup kopi dan bergumam “lantak die lah”.

Suatu hari nanti perlu dibuat buku yang menjelaskan “Asal-Usul Bahasa Indonesia”, dibuku itu harus jelas menuliskan rentetan kejadian sejarah Nusantara dari zaman 1 Masehi atau sebelumnya kalau perlu. Dibuku itu harus menceritakan alur ekonomi, politik hingga budaya yang selalu mempunyai hubugan dengan perkembangan dan penyebaran budaya serta bahasa. “Asal-Usul Bahasa Indonesia” juga harus menuliskan ibukota provinsi dua kawasan Indonesia yang memiliki embel-embel “Riau” yaitu Riau yang beribukota Pekanbaru dan Kepulauan Riau yang beribukota di Tanjungpinang. Sehingga generasi masa mendatang sadar dari mana sumber bahasa Indonesia itu berasal. Supaya masyarakat daerah lain yang hidup dalam negara Indonesia yang luas ini bisa mengerti, bahwa Bahasa Indonesia itu berasal dari Kepulauan Riau. Bukan hanya masalah pride yang diharapkan disini, tetapi lebih dari itu karena Kepulauan Riau telah terlanjur berkembang menjadi daerah yang cepat perkembangan ekonominya, maka Kepulauan Riau harus siap berkembang dan maju dengan budaya yang gilang gemilang. Apalah arti generasi modern yang lupa akan budaya aslinya.

Di Indonesia ada ribuan dialek dan bahasa daerah, yang mulai dari sekarang sudah seperti menghitung mundur. Karena tiap hari selalu ada bahasa daerah yang tidak dituturkan lagi oleh penduduknya sendiri. Disebabkan karena persaingan dengan bahasa daerah lain ataupun “kebanggaan” menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi. Kalau semua bahasa daerah hilang dan hanya ada bahasa Indonesia, maka negara ini bukan lagi “Bhinneka Tunggal Ika”, untuk itu penting bagi negara ini untuk terus menjaga keberagaman bahasa dan budaya.

Nasionalisasi tidak harus menghilangkan kultur asli suatu daearah. Nasionalisasi akan lebih indah dan kuat dengan kultur yang masih kental terjaga pada masing-masing daerah di Indonesia ini. Sudah sepatutnya memang kita lah yang mempertahankan kebudayaan kita sendiri, karena kebudayaan adalah anugerah yang maha kuasa kepada bangsa ini. begitu juga negeri Kepulauan ini, semoga saja tetap mempertahankan bahasa daerah dan logat masing-masing. Tetap kekal hingga akhir dunia. Seandainya chauvinisme dan sukuisme adalah sesuatu yang ditakutkan maka penapis semangat fanatisme itu adalah dengan memajukan pendidikan dan meningkatkan taraf ekonomi. Jika pendidikan dan ekonomi maju maka fanatisme sempit dan merusak akan berkurang dan bahkan hilang. Yang jelas kita harus tetap menjaga keberagaman negeri ataupun negara ini.

Bahasa Indonesia tetap digunakan sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia tetap digunakan sebagai bahasa nasional. Untuk mempersatukan berbagai macam suku bangsa dengan berbagai macam bahasa itulah diperlukan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatunya. Nah, kita sebagai masyarakat Kepulauan Riau yang mahfum bahwa bahasa Indonesia diadopsi dari bahasa sehari-hari kita, tentunya juga harus bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa formal. Ada waktunya kita menggunakan bahasa daerah dan ada waktunya juga kita menggunakan bahasa Nasional, meskipun untuk hal ini saya yakin penduduk Kepulauan Riau sudah sangat faham. Karena kebanyakan penutur bahasa daerah yang ada di Kepulauan Riau biasanya akan bersusah payah walau harus berbelit lidah asal dapat berkomunikasi dan bertutur dengan bahasa Nasional yang baik dan benar dengan orang-orang yang tidak mengerti bahasa daerahnya.

Seluruh suku bangsa yang ada di Kepulauan Riau juga sebenarnya tak perlu ditanyakan lagi tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, karena sangat tidak mungkin seseorang dengan background budaya Jawa dapat berkomunikasi dengan seseorang yang bahasa ibunya adalah bahasa Bugis jika masing-masing menggunakan bahasa daerah, untuk itu diperlukanlah bahasa Nasional.
Tetap pertahankan bahasa daerah masing-masing, hargai bahasa daerah Kepulauan Riau dan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan keberagaman Kepulauan Riau akan terus berkembang dan maju.
M Zulfahri Afiat