Opini

Perang Mata Uang Antar Negara di Dunia

info TanjungpinangPerang Mata Uang Antar Negara di Dunia. Dewasa ini pertempuran antara negara-negara yang memiliki pengaruh besar didunia tidak lagi lewat adu kekuatan militer. Kini telah terjadi persaingan dalam perebutan konsumen. Negara-negara seperti Jepang, Amerika, Inggris dan negara-negara yang tergabung dalam MEE bersaing merebut pangsa pasar dengan mengimbangi harga mata uang mereka.

Para pelaku usaha dalam bidang valuta mungkin sudah tidak heran lagi mendengar istilah “war currency”. Bagi para trader valuta, mungkin akan tersenyum jika mendengar istilah tersebut. Terbayangkan semwarutnya ekonomi Eropa bebarapa tahun yang lepas, betapa sulitnya Euro menjaga kestabilannya dalam menghadapi pengaruh US $. Dan sebagian trader lain mungkin akan lebih sumringah jika mendengar istilah “war currency” lalu dikaitkan dengan mata uang Jepang yaitu Yen.

Perang Mata Uang Antar Negara di Dunia
Perang Mata Uang Antar Negara di Dunia (picture)

Sebagian orang mungkin menganggap perang mata uang hanya omong kosong belaka namun jika benar-benar diperhatikan perebutan pangsa pasar dan persaingan memperendah nilai tukar mata uang masing-masing negara jelas sekali kita dapat melihat adanya perang mata uang.

Dalam keadaan perang mata uang ini, ada suatu fakta yang sangat menarik. Sebuah negara yang dikenal luluh lantak akibat perang dunia kedua dulu, sebuah negara yang dengan singkat dapat bangkit dari keterpurukan namun kini dikenal sebagai negara yang memproduksi banyak produk yang memiliki pangsa pasar yang luas diseluruh dunia. Jika sebelum perang dunia kedua, Jepang hampir tidak memiliki pangsa pasar, kini disaat dunia sudah mengalami globalisasi meluas, Jepang berhasil menjadi negara yang sangat berpengaruh didunia.

Keunikan ekonomi Jepang dikenal karena nilai mata uang negara industry satu ini terbilang rendah jika dibandingkan nilai mata uang negara industry yang lain. Yen (mata uang Jepang) berada diposisi stategis menengahi nilai mata uang negara maju dan negara berkembang. Jika kita konversi Yen kedalam mata uang rupiah yang rata-ratanya 1 Yen = 110 Rupiah, kita akan mendapati hasil yang tidak begitu jauh perhitungannnya jika mengkonversi 1 Dollar US ke mata Uang Jepang yang ternyata berkisar antara 1 Dollar US = 110 Yen. Sebuah keadaan yang agak rancu jika melihat keadaan ekonomi Jepang yang sebenarnya memilik tingkat produksi yang tinggi.

Inilah hebatnya Jepang, walaupun mereka kalah dalam perang dunia kedua, mereka tetap saja bisa menunjukkan kekuatan mereka dalam persaingan ekonomi di dunia. Jika negara kita berupaya agar nilai tukar rupiah dapat kembali menguat (menembus 10.000/1 $), Jepang malah santai-santai saja dan terkesan mereka terus berusaha untuk menurunkan nilai tukar mata uang mereka.

Pada perdangan bulan Juli 2014, Yen berkisar antara 101-104 per satu dollar Amerika. Memasuki bulan November ini Yen bermain pada kisaran antara 110-114 per satu dollar Amerika. Yen yang pernah mengejutkan menyentuh harga 115 per satu dollar Amerika itu kini seakan diselimuti misteri, sampai sejauh mana mereka akan terus menurun, jika Dollar memang sudah jelas-jelas menguat terhadap mayoritas mata uang didunia, maka Yen tetap terus menjadi tanda Tanya, apakah akan ada pergerakan mendadak menjelang akhir tahun ini. Jika Yen terus diperdagangkan dengan kisaran 110 per Dollar Amerika seperti saat ini, apa yang akan terjadi pada pergerakan mata uang Yen tahun depan. Disaat Asia Timur dan Asia Tenggara mulai membebaskan kawasan mereka untuk persaingan produk secara langsung. Apakah Yen benar-benar sudah nyaman dengan posisi ini? Lalu bagaimana dengan negara-negara produsen lainnya, apakah mereka akan diam saja melihat penurunan nilai tukar Yen yang kontinu ini?

Dampak dari melemahnya mata uang Yen jelas dapat langsung dirasakan dunia seperti menurunnya harga produk-produk buatan Jepang, jika berbanding produk buatan negara maju lainnya tentunya negara-negara yang mengkonsumsi produk-produk dari negara-negara maju tentunya lebih memilih produk Jepang. Dengan produk yang miliki pangsa pasar yang besar ditambah pula harga yang murah tentunya konsumen di negara-negara berkembang lebih memilih produk Jepang. Walaupun ada idiom disebagian penikmat produk Amerika, seperti “kualitas produk Jepang serendah harganya” namun yang namanya konsumen di negara berkembang tidak terlalu memperdulikan itu. Jika bisa memiliki suatu produk terkini dengan harga yang terjangkau, kenapa harus memilih yang mahal?

Biasanya dengan menurunnya nilai tukar rupiah akan menyebabkan beberapa perusahaan di Indonesia mengalami kerugian, dikarenakan mahalnya harga 1 dollar berbanding rupiah. Jika pada awal pendirian perusahaan harga satu dollar seharga 10.000 rupiah dan pada saat jatuh tempo pembayaran hutang, harga satu dollar seharga 13.000 rupiah maka akan mempersulit perusahaan-perusahaan dalam negeri untuk membayar modal pinjaman dari investor-investor luar negeri. Rupiah diharapkan dapat terus menguat, agar beban hutang kita dapat menurun dari waktu kewaktu. Tidak demikian dengan Jepang, mereka terus berupaya agar mata uang mereka jatuh, semakin murah semakin baik. Jika melihat perang Valuta antara negara-negara industry kita akan melihat aksi Jepang yang terkesan “nakal:” dipasar valuta, “Jepang memang kalah di perang dunia kedua, tapi mereka berhasil memenangkan banyak perang pada sektor perang mata uang”. Semakin turun nilai tukar Yen, semakin untung negara mereka, luar biasa.

“Liarnya” sepak terjang Jepang dalam perang mata uang, membuat saya berfikir tentang keadaan Indonesia, andai saja Indonesia dapat bangkit dari keadaan sekarang dan berkembang pesat menjadi salah satu negara yang dapat memproduksi produk industry yang sekarang sedang banyak dibutuhkan didunia. Maka kita bisa memiliki banyak keuntungan, pangsa pasar Indonesia mungkin sudah sepenuhnya dibayang-bayangi produk Jepang, China dan India di kawasan Asia/Asia Timur/Asia Tenggara, tapi kita bisa saja merebut pangsa pasar negara-negara yang berada di kawasan Oseania, Eropa Timur ataupun Afrika yang notabenenye adalah juga negara-negara berkembang. Dapat dibayangkan betapa repotnya negara-negara maju lainnya jika Indonesia berhasil menyulap dirinya menjadi negara industry.

Oleh: M Zulfahri Afiat