Opini

Pertikaian Dunia karena Alasan Ekonomi

info TanjungpinangPertikaian Dunia karena Alasan Ekonomi. Sejak bersatunya ratusan suku ditanah Sumeria ribuan tahun silam, persaingan dan perebutan akan sumber-sumber ekonomi mulai terjadi bahkan jauh sebelum itupun sudah dimulai, hanya saja dengan cara yang  lebih primitif.

Peradaban kaum Sumeria yang telah terstruktur secara pemerintahan ternyata tetap juga mempertahankan nilai  primitif dalam melanjutkan kerajaannya, menjajah kerajaan kecil lain demi kemakmuran bangsanya. Pada waktu itu perebutan lahan subur telah menyebabkan banyak pertumpahan darah. Dimana ada daerah penghasil gandum terbesar maka disitulah banyak tentara berkumpul untuk memperebutkan lahan subur tersebut.

Selepas era kerajaan Sumeria berakhir didunia, lahirlah tiga kerajaan lainnya yang saling berebut pengaruh yaitu Mesir, Persia dan Romawi. Tiga kerajaan ini silih berganti memegang hegemoni dunia pada waktu silam, dan pada masa itu telah terjadi perkembangan dalam segala bidang. Persaingan antara kerajaan bukan hanya karena perebutan tanah subur namun juga terjadi pada daerah-daerah yang tandus dan gersang hanya karena daerah tandus tersebut berada pada jalur lintas perdagangan.

Daerah penghasil logam dan tekstil juga turut diperebutkan, pada masa itu kebutuhan semakin kompleks. Keadaan ini juga terus membawa pada persaingan militer yang membawa dampak penderitaan bagi masyarakat yang tidak dianggap sebagai citizens atau warga negara, mereka yang hidupnya didaerah jajajahan dianggap sebagai budak yang dipekerjakan untuk memakmurkan kehidupan para citizens.

Seiring waktu berjalan akhirnya perebutan wilayah telah memasuki era yang semakin hari semakin rumit. Beberapa wilayah gersang yang tidak menghasilkan apa-apa menjadi ajang pertempuran para kesatria untuk saling unjuk kekuatan demi merebut daerah-daerah yang dianggap sakral.

Jumlah korban jiwa karena peperangan pun semakin meningkat, bersamaan dengan telah semakin canggihnya peralatan tempur pada waktu itu. Tiga kerajaan sebelumnya yaitu Mesir, Persia dan Romawi sudah meredup kekuasaannya berganti menjadi Bizantium, Saracens,Turk ataupun Mongol. Pusat-pusat peradaban telah berpindah-pindah dari waktu kewaktu, namun perebutan wilayah  telah terjadi semakin luas dan lebih brutal dari sebelum-sebelumnya. Era kemajuan peradaban Arab dan Eropa Timur ternyata tidak berlangsung selamanya. Pada saat terjadi Renaissance di wilayah Eropa Barat, terjadilah perubahan peta kekuasaan dunia.

Negara-negara yang sebelumnya berada dibawah tekanan bangsa-bangsa lain, akhirnya menjelma menjadi bangsa yang tangguh dan maju sebutlah Spanyol, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis dan Portugal. Negara-negara tersebut sukses menjadi negara yang meluaskan kekuasaan mereka dengan menyeberangi lautan yang luas. Pada waktu itu harga rempah yang mahal membuat negara-negara tersebut saling berebut pengaruh di Asia Tenggara dan Asia Timur bahkan keberhasilan mereka menemukan benua Amerika telah membuat perekonomian negara mereka melejit jauh dibanding negara-negara Timur Tengah yang sebelumnya kaya raya karena perdagangan rempah dengan India.

Negeri-negeri yang terpaksa harus melihat langsung pertumpahan darah didepan rumah mereka sendiri termasuklah Nusantara ini. Negeri penghasil rempah yang paling bermutu. Seperti halnya pada era kejayaan Mesir dulu, daerah penghasil gandum dan juga daerah jalur perdagangan akan menjadi pusat pertumpahan darah, maka begitu jugalah nasib Nusantara pada era kolonisasi yang menjadi tempat pertumpahan darah. Banyak negara yang ikut campur urusan dalam negeri kerajaan-kerajaan di Nusantara bukan karena mereka benar-benar peduli pada kehidupan rakyat Nusantara tetapi karena mereka ingin menjamin supply rempah-rempah ke negara mereka tetap cukup untuk memakmurkan negara mereka.

Masih di era kolonial selepas harga rempah mulai tidak stabil akhirnya negara-negara Kolonial bersusah payah mencari daerah penghasil logam Mulia. Maka aneksasi terhadap benua Amerika secara total tidak dapat terelakkan. Bangsa Indian, Aztec, Inca dan Maya yang telah lebih dulu hidup di benua Amerika akhirnya ditekan oleh bangsa-bangsa Barat. Orang-orang dari Eropa mulai menerapkan kasta, mereka merasa lebih layak untuk hidup di Benua Amerika persis seperti yang terjadi pada bangsa Sumeria saat mereka menyerang kampung-kampung kecil di Asia Minor.

Ternyata di era apapun yang namanya penjajahan tetaplah menjadi penderitaan bagi pihak yang terjajah sedangkan pihak yang menjajah menjadi pihak arogan yang merasa lebih mulia dari daerah jajahan mereka. Sampai disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, modern itu relatif karena se-modern apapun perkiraan kita, kebiasaan primitif yaitu “perang” tetap tidak bisa dihindarkan. Bahkan sejalan dengan perkembangan zaman dan peralatan yang semakin canggih, maka kematian & kerugian yang disebabkan oleh peperangan menjadi semakin besar.

Selepas kehancuran bangsa Indian, Inca, Aztec dan Maya ternyata Inggris berhasil pula menemukan benua Australia untuk merenggut emas dari tangan bangsa Aborigin. Inggris datang ke Australia dengan jumlah yang besar dan membuat bangsa Aborigin menjadi kaum minoritas di negeri sendiri. Pembantaian terhadap kaum Aborigin terjadi dimana-mana, hanya karena dinegerinya banyak terdapat emas.

Baru pada era awal abad 20 terjadi perubahan pada dunia. Dimana negeri-negeri yang sebelumnya terjajah dapat lepas satu persatu dari cengkeraman negara-negara Barat. Walau begitu nasib penduduk asli yang sebelumnya mendiami kawasan Amerika dan Aborigin seakan dilupakan oleh dunia. Mereka masih hidup terjajah di negeri sendiri oleh bangsa kulit Putih yang mengaku menjadi pemilik sah di negeri mereka(Amerika Serikat,Canada & Australia). Di era abad 20 ini pula Nusantara mendapat kemerdekaannya, tersebutlah Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina yang akhirnya dapat menghirup udara kemerdekaan seperti ratusan tahun sebelumnya.

Mata para penguasa dunia tidak lagi tertuju pada negeri penghasil rempah ataupun negeri penghasil emas. Ternyata di pertengahan abad 20, telah terjadi pula persaingan baru didunia. Perebutan Minyak Bumi. Negeri-negeri Arab yang memiliki daerah tandus dan tidak bisa ditanami rempah seperti di Indonesia itu ternyata menyimpan kandungan minyak bumi dalam jumlah besar.

Dunia pun fokus pada keadaan di Timur Tengah, karena pada era abad 20 ini minyak merupakan sumber terpenting demi kemajuan perekonomian suatu negara. Setelah silih bergantinya para penguasa didunia, setelah sempat terlupakan selama ratusan Tahun akhirnya nama Irak kembali menjadi sangat terkenal diseluruh Dunia. Negeri yang sebelumnya merupakan  pusat kerajaan-kerajaan besar(Sumeria,Babbylonia & Mesopotamia) karena dulu kala daerah ini menghasilkan gandum yang bermutu menjadi bahasan yang menarik karena menyimpan cadangan minyak bumi yang besar.

Maka pada waktu Irak melakukan serangan ke Kuwait dan Iran, negara-negara yang tergabung dalam PBB pun mengadakan rapat dengan segera untuk melakukan intervensi dalam masalah tersebut. Uniknya PBB bertindak sangat lamban ketika terjadi perang antara Serbia dan Bosnia ataupun terjadinya pemberontakan penduduk Turkistan terhadap Cina. Masalah Irak dianggap masalah yang serius, masalah Irak dianggap permasalahan yang menyangkut keamaan dunia, padahal disebalik itu tidak luput dari alasan Ekonomi yang ada pada Irak. ternyata tak cukup di Perang Teluk Pertama, Irak pun digempur lagi diawal abad 21. Tidak hanya Irak, Afghanistan pun juga luluh lantak diserang oleh Amerika. Dan kini, mata dunia tertuju pada Syiria pula, setelah sebelumnya Libya.

Timur Tengah bergejolak bukan hanya karena revolusi ataupun sosial tetapi juga karena alasan Ekonomi. Karena akan terus terjadi perebutan kekuasaan didunia ini, hanya karena alasan Ekonomi, sedangkan alasan Politik dan Sosial hanya dijadikan sebagai umpan, padahal yang sebenarnya alasan Ekonomi inilah yang memang sejak dulu telah menjadi sebab utama pertumpahan darah. Pembahasan tentang perang yang disebabkan oleh semangat Agama memang urusan yang lain, namun perang yang disebabkan oleh fanatisme Agama juga telah menumpahkan banyak darah didunia ini.

Kebutuhan Ekonomi dan Fanatisme Agama telah menyebabkan manusia menjadi tidak manusiawi, semoga saja suatu hari nanti tercipta dunia Utopia seperti yang selalu didongengkan dari generasi ke generasi.

 

Oleh : M Zulfahri Afiat