Tanjungpinang

Ratusan Anak SD Tanjungpinang Menderita Gangguan Mata

Tanjungpinang (IT) – Acara launching Komite Mata Nasional dengan Kementerian Kesehatan, beserta gabungan  beberapa pengusaha optik nasional dimulai  hari ini tanggal 9 sampai 13 Mei 2016, dengan tema “Gerakan Sejuta Kacamata”. Pelaksanaan kegiatan tersebut diadakan di Kota Tanjungpinang sebagai motor pelaksana, untuk meningkatkan kesehatan mata nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang mengatakan “Ada 6 provinsi di Indonesia yang ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan ini dan satu diantaranya adalah Provinsi Kepri. Sedangkan untuk wilayah Kepri dipercayakan kepada Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang.

Ratusan Anak SD Tanjungpinang Menderita Gangguan Mata
ilustrasi Anak SD Tanjungpinang (images: realkidshades.com)

Pada saat puncak pelaksanaan, yang digelar tanggal 20 Mei mendatang, kacamata dibagikan sesuai dengan  kebutuhan dengan kelainan refraksi yang dialami oleh penderita gangguan mata, dan disaat itu juga akan diadakan dialog dengan Menteri Kesehatan secara jarak jauh.

Kelainan refraksi sendiri merupakan kelainan pada pembiasan cahaya retina mata tidak dapat fokus saat menerima terhadap bayangan, sehingga menyebabkan kaburnya penglihatan mata.

Kondisi tersebut terbagi menjadi dua macam yakni rabun jauh atau dengan istilahnya miopi, merupakan suatu kondisi  saat bayangan sinar jatuh  di depan retina. Bagi penderita  hanya dapat melihat jelas saat objek berada di dekat dan tidak jelas atau kurang jelas disaat objek berada jauh darinya. Pertolongan dapat dilakukan dengan kacamata minus.

Kelainan kedua adalah rabun dekat atau biasa disebut dengan hipermetropi, yakni suatu keadaan dimana bayangan sinar jatuh di belakang retina mata. Penderita ini akan lebih jelas di saat melihat objek yang jauh dan tidak begitu jelas atau kabur saat melihat objek berada di dekatnya. Kacamata yang tepat adalah dengan kacamata plus.

Sasaran kegiatan sejuta mata ini adalah anak SD sebagai  cikal bakal  generasi  yang akan datang  dan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah menormalkan kembali penglihatan anak-anak yang sudah terganggu, sehingga proses belajar di sekolah dapat diikuti dengan cara sebaik-baiknya.

Kegiatan dihari pertama mendapatkan lebih dari 850 anak SD Tanjungpinang mengalami gangguan penglihatan, sehingga membutuhkan kacamata batu untuk mendukung kegiatan belajar.

(Dilansir oleh media Batam Pos)