Nasional

Ribuan Kondom Ditemukan Di Rumah Indekos Pelaku Prostitusi Anak Untuk Gay

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya mengatakan, di rumah indekos tersangka AR ditemukan berkotak-kotak kondom.

Kondom tersebut yaitu stok yg disediakan AR bagi pelanggannya, ketika ia menjajakan para korban yg masih anak-anak kepada pria dewasa.

“Kami menyita kondom, ditemukan di tempat indekos AR. Ini ada banyak sekali,” ujar Agung di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (2/9/2016).

Saat dipamerkan dalam konferensi pers, kondom-kondom tersebut ditampung di sebuah plastik hitam besar. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 1.000 bungkus. Di kotak kondom itu tertulis bahwa barang tersebut tak buat diperjualbelikan.

“Itu diperoleh dari tempat dia bekerja sebagai penyuluh, di LSM (lembaga swadaya masyarakat) itu,” kata Agung.

(Baca: Ini Cara Pelaku Prostitusi Anak Rekrut Korbannya)

Diketahui, AR aktif sebagai tenaga penyuluh buat HIV/AIDS di sesuatu LSM bagi kaum lesbian, gay, biseksual, dan transjender (LGBT). AR berkecimpung di LSM itu sejak keluar dari penjara sekitar enam bulan lalu.

Bisnis prostitusi anak bagi kaum gay pun dilakoni AR semenjak keluar dari penjara. Ia dikurung selama 2,5 tahun atas kejahatan sebagai mucikari dengan korban perempuan.

Sebelumnya, Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyampaikan bahwa AR dengan gampang mengajak para korban karena lingkungannya dikelilingi dengan anak-anak usia sekolah.

“Di tempat indekos ini lingkungannya remaja. Mereka membuat grup, namanya ‘Reo Ceper Management’,” ujar Ari.

(Baca: Tersangka Prostitusi Kaum Gay Sering Bawa Anak Laki-laki ke Kamar Indekosnya)

AR mengiming-imingi korbannya dengan tawaran uang yg menggiurkan seandainya mau ikut “berbisnis” dengannya. Ia menjajakan korbannya melalui akun Facebook bernama “Brondong”.

Di akun tersebut, AR memajang foto-foto korban dengan informasi foto berisikan nama dan hurif khusus yg diketahui yaitu sandi. Huruf V menandakan anak tersebut bertindak sebagai perempuan, T bertindak sebagai laki-laki, dan B bagi biseksual.

Setiap anak bertarif Rp 1,2 juta. Dari uang sebanyak itu, tiap-tiap anak cuma menerima Rp 100.000-Rp 150.000 buat sekali pelayanan singkat. Dari pengembangan, polisi menangkap U dan E terkait perkara ini.

(Baca: Pelaku Prostitusi Anak Mengaku Aktif Jadi Penyuluh Anti-HIV/AIDS di Komunitas LGBT)

Tersangka U yaitu mucikari sama seperti AR. Sementara itu, E yaitu pemakai jasa prostitusi anak sekaligus perekrut dan menyediakan rekening bagi menampung uang hasil kejahatan AR.

Para pelaku terancam pasal berlapis terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sumber: http://nasional.kompas.com