Opini

Riwayatmu Dulu: Sungai Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau

info TanjungpinangRiwayatmu Dulu: Sungai Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau. Alkisah hampir tiga ratus tahun yang lalu, sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Istana Kota Rebah adalah sebuah pusat kerajaan Melayu yang berdaulat atas wilayah Johor-Riau dan Pahang. Jika sekarang kita kesana, kita masih dapat menjumpai beberapa sisa-sisa bangunan tua yang dulu sempat digunakan pada masa jayanya. Sekarang telah ada jembatan langsung jika kita menuju kesana dari arah batu 8 bawah kota tanjungpinang. Istana kota rebah ini berada di seberang belakang Rumah Sakit Provinsi. Dikawasan ini sekarang juga biasa dikenal sebagai “Kawasan Hutan Mangrove”.

Riwayatmu Dulu Sungai Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau
Riwayatmu Dulu Sungai Carang Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau

Di Kepulauan Riau ada dua kawasan ibukota Kerajaan Melayu, sebutlah Daik Lingga, lalu yang lebih tua lagi ada di Sungai Carang. Jika melihat Daik kita akan melihat ada satu kesamaan geografis yang khas dilakukan oleh orang-orang Melayu dalam memilih letak Ibukota. Jika di Daik ada Pulau Mepar sebagai mercusuarnya, maka di Sungai Carang kita ada Pulau Penyengat. Namun seiring waktu Ibukota yang berada di Hulu Sungai Carang ini meredup perannya seiring waktu. Kawasan yang jelas dikatakan sebagai Hulu Riau itu kini hanya tinggal puing-puing yang menyimpan romantisme sejarah yang panjang. Jika di Daik dan Penyengat kini banyak dengan rumah penduduk yang memilih tetap bertahan di bekas Ibukota kerajaan Melayu. Uniknya di Hulu Riau kini tidak ada rumah-rumah penduduk disana, sehinggalah Hulu Riau ini kini menjadi sebuah Kota Lama yang kini tak berpenghuni. Hanya tinggal sisa-sisa bangunan lama dan makam.

Menilik buku-buku sejarah, sebenarnya Hulu Riau ini memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan Kerajaan Melayu, paska gempuran Portugis ke Melaka. Kerabat diraja berundur ke kawasan ini. Jelaslah betapa pentingnya peran Hulu Riau demi kelangsungan Kerajaan Melayu.

Waktu takkan berputar mundur untuk melihat kejadian sebenarnya pada masa lampau, pegangan kitapun pada sejarah sebenarnya dari Buku-Buku sejarah, karena sebagian ahli sejarah ada yang menolak cerita dari mulut ke mulut. Katanya keabsahan sejarah hanya dapat dilihat dari data dari Buku. Jika mendengar cerita tetua-tetua yang paham susur galur sejarah Melayu, tak jarang kita menemukan cerita yang berpadu antara fakta dan legenda. Sebenarnya disitulah letak indahnya sejarah, selalu ada fantasy didalamnya, walau bagaimanapun fakta tetap fakta mitos tetaplah mitos.

Dalam hal Hulu Riau ini, sebenarnya kita dapat melihat suatu bukti yang otentik berupa bangunan bersejarah dan buku-buku lama yang menceritakan sepak terjang pahlawan Melayu dalam mengusir penjajah dari Sungai Carang.

Saya yakin jika anda penggemar film-film sejarah ataupun film-film Kerajaan dapat dengan mudah mengimajinasikan suasana Sungai Carang suatu ketika dulu. Terbayangkan betapa susahnya tentara Belanda untuk mencapai kawasan Hulu Riau itu, karena mereka harus menghadapi gempuran Askar-Askar Melayu dari Pulau Penyengat dan saat mereka masuk menuju sungai akan mendapat sambutan Askar yang berada di Kota Piring pula. Kawasan sungai yang tak mudah diterka kedalamannya juga menjadi penghalang bagi para penjajah untuk dapat menguasai Hulu Riau. Hal yang sama ini terjadi juga di Daik, dengan Pulau Mepar sebagai pintu terdepannya. Hanya saying, kini nasib Hulu Riau tidak seperti Daik yang paling tidak lebih dikenal khalayak.

Beberapa waktu lagi akan diadakan Festival Dragon Boat dan Festival Sungai Carang yang akan mengambil tempat persis di kawasan yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Kini Sungai Carang melukiskan memory lama di perairannya. Sungai Carang kembali terbayang dihati penduduk kepulauan Riau yang rindu akan perjuangan-perjuangan tulus ikhlas demi kemajuan negeri.

Kita hargai upaya berbagai pihak yang bertungkus lumus mengupayakan hidupnya bara semangat kedaerahan yang positif, kita mendukung berbagai upaya untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan di tanah Melayu ini.

 

Oleh: M Zulfahri Afiat